SHANGHAI, 20 Juli 2026 /PRNewswire/ — Ketika Pakistan memasuki musim hujan tahunannya, kemampuan memprediksi cuaca dengan akurat menjadi kunci untuk melindungi keselamatan masyarakat dan mengurangi dampak terhadap mata pencaharian. Berkat dukungan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), sistem meteorologi MAZU yang dikembangkan Tiongkok kini membantu Pakistan mendeteksi potensi cuaca ekstrem secara lebih dini dan menyampaikan peringatan secara lebih dini.
"Dengan menggunakan platform ini, kami dapat memprediksi banjir, kekeringan, dan berbagai cuaca ekstrem lainnya secara lebih akurat," ujar Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Badan Meteorologi Pakistan, Furrukh Bashir. "Kami berharap semakin banyak inovasi seperti ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di berbagai negara."
Penerapan sistem MAZU di sejumlah negara menunjukkan bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk menjawab berbagai tantangan global. Melalui model AI sumber terbuka (open source), kerja sama teknologi, dan berbagai inisiatif internasional, Tiongkok berupaya memperluas akses teknologi AI agar manfaatnya dapat dirasakan oleh semakin banyak negara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat membuka World Artificial Intelligence Conference 2026 dan High-Level Meeting on Global AI Governance di Shanghai, Jumat, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengajak seluruh negara mengedepankan pendekatan yang berpihak pada manusia, serta bekerja sama membangun tata kelola AI global yang adil dan inklusif.
"Tiongkok, sebagai negara besar yang bertanggung jawab, senantiasa berkomitmen menyediakan barang publik internasional di bidang AI," kata Xi.
Membuka Akses AI sebagai Peluang Bersama
Dalam kesempatan tersebut, Xi mengumumkan sejumlah langkah untuk memperkuat pengembangan AI secara global. Di antaranya, bantuan untuk 30 negara dalam pemanfaatan sistem meteorologi MAZU, menyediakan 5.000 kesempatan pelatihan AI bagi negara-negara berkembang dalam lima tahun ke depan, serta membentuk pusat kerja sama internasional untuk penerapan AI bersama ASEAN, Liga Arab, Uni Afrika, Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC), Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), dan BRICS.
Selain itu, Tiongkok terus mendorong pengembangan model AI sumber terbuka sebagai upaya menciptakan ekosistem AI global yang lebih inklusif.
Model AI asal Tiongkok seperti DeepSeek dan Qwen milik Alibaba mendapat perhatian luas karena menawarkan efisiensi tinggi, biaya yang lebih terjangkau, serta bersifat terbuka. Kombinasi tersebut membantu pengembang dan pelaku usaha mengadopsi teknologi AI dengan biaya yang lebih rendah. Data resmi menunjukkan jumlah unduhan kumulatif model AI sumber terbuka dari Tiongkok kini telah melampaui 10 miliar di seluruh dunia.
Di Afrika, misalnya, pendekatan sumber terbuka yang diterapkan DeepSeek mendukung para pengembang mengunduh, memodifikasi, dan menyempurnakan sistem AI sesuai kebutuhan. Pendekatan tersebut turut memperkuat kapasitas digital lokal sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang dikembangkan oleh talenta setempat.
Dari sisi biaya, model tersebut juga dinilai jauh lebih efisien. Dengan tarif hanya US$0,27 per satu juta token input dan US$1,10 per satu juta token output, DeepSeek memangkas hambatan biaya lebih dari 90% dibandingkan sejumlah model AI buatan negara-negara Barat yang banyak digunakan saat ini. Kondisi ini membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha maupun pengguna di Afrika untuk ikut serta dalam transformasi digital.
"Tiongkok sebagai negara berkembang memahami aspirasi banyak negara di kawasan Global South untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan kemajuan teknologi," ujar Wakil Direktur Institute for World Peace and Security Studies di China Institute of International Studies, Zhang Weiwei.
Menurut Zhang, model AI sumber terbuka yang dikembangkan Tiongkok membantu berbagai negara membangun aplikasi AI dengan lebih cepat dan biaya yang lebih rendah sehingga semakin banyak negara berkembang dapat menikmati manfaat kemajuan teknologi.
Mendorong Kerja Sama Global untuk Menutup Kesenjangan AI
Pesatnya perkembangan AI juga diikuti oleh kesenjangan kemampuan AI antarnegara yang bertambah lebar. Digital Progress and Trends Report 2025 yang diterbitkan Bank Dunia menunjukkan masih terdapat kesenjangan besar antara negara berpendapatan tinggi dan negara berpendapatan menengah maupun rendah, baik dari sisi pengembangan sistem AI maupun kapasitas komputasi. Sementara itu, kapasitas pusat data global masih terkonsentrasi di negara-negara maju, sedangkan Afrika hanya memiliki kurang dari satu 1% dari total kapasitas dunia.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Xi mengajak seluruh negara membantu negara-negara berkembang meningkatkan kapasitas AI, memperkecil kesenjangan digital, serta membangun kerangka tata kelola global yang dapat diterima secara luas agar teknologi baru benar-benar memberi manfaat bagi seluruh umat manusia.
Selama beberapa tahun terakhir, Tiongkok secara konsisten mendorong terbentuknya tata kelola AI global yang lebih adil dan inklusif. Pada 2023, Tiongkok meluncurkan "Global AI Governance Initiative", disusul "AI Capacity-Building Action Plan for Good and for All" pada 2024 serta "AI+ International Cooperation Initiative" pada 2025. Berbagai inisiatif tersebut bertujuan mendorong pengembangan AI yang bertanggung jawab dan memperkecil kesenjangan digital.
Tiongkok juga memperluas kerja sama internasional melalui pembentukan Center for Global AI Innovative Governance (CGAIG) dan Group of Friends for International Cooperation on AI Capacity Building. Kedua platform tersebut menjadi wadah bagi berbagai negara untuk memperkuat dialog, berbagi pengetahuan, dan meningkatkan kapasitas di bidang AI.
Penandatanganan perjanjian pembentukan World Artificial Intelligence Cooperation Organization di Shanghai pada Kamis lalu menjadi langkah penting berikutnya dalam memperkuat kolaborasi global sekaligus mendorong pengembangan kecerdasan artifisial yang aman, adil, dan memberikan manfaat bagi semua pihak.
Melalui pengembangan model AI sumber terbuka, penyelenggaraan program pelatihan, hingga berbagai inisiatif tata kelola global, Tiongkok ingin menjadikan kecerdasan buatan sebagai penggerak inovasi dan pembangunan bersama. Tujuannya, manfaat teknologi transformatif yang selama ini lebih banyak dinikmati oleh segelintir pihak dapat menjangkau lebih banyak negara dan masyarakat di seluruh dunia.


















